Pola
Asuh Orang Tua
A. Pengertian
Pola
asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2008:1088) bahwa “pola adalah model, sistem, atau cara kerja”, Asuh
adalah “menjaga, merawat, mendidik, membimbing, membantu, melatih, dan
sebagainya” Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:96). Sedangkan arti orang tua
menurut Nasution dan Nurhalijah (1986:1)
“Orang tua adalah setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau
tugas rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak dan
ibu.”
B. Jenis-Jenis
Pola Asuh
Menurut Hourlock (dalam
Thoha, 1996 : 111-112) mengemukakan ada tiga jenis pola asuh orang tua terhadap
anaknya, yakni :
1. Pola
Asuh Otoriter Pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak dengan
aturanaturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti
dirinya (orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi.
2. Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis
ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi
kesempatan untuk tidak selalu tergantung pada orang tua.
3. Pola
Asuh Permisif Pola asuh ini ditandai dengan cara orang tua mendidik anak yang
cenderung bebas, anak dianggap sebagai orang dewasa atau muda, ia diberi
kelonggaran seluas-luasnya untuk melakukan apa saja yang dikehendaki.
Menurut Drs. Zulkifli
(1987:138) menyebutkan ada empat jenis pola asuh:
1. Pola
Asuh Otoriter (Parent Otorited)
Pola asuh otoriter pada
umumnya menggunakan pola komunikasi satu arah. Pola asuh ini menekankan bahwa segala aturan orang tua harus ditaati
oleh anaknya. Dalam kondisi ini anak seolah-olah bertindak sebagai robot.
2. Pola
Asuh Permisif (Children Centered)
Pola asuh permisif
menggunakan komunikasi satu arah, karena meskipun orang tua memiliki kekuasaan
penuh dalam keluarga terutama pada anak tetapi anak memutuskan apa-apa yang
diinginkan sendiri baik orang tua setuju ataupun tidak.
3. Pola
Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis
menggunakan komunikasi dua arah. Kedudukan orang tua dan anak dalam
berkomunikasi sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan (keuntungan)
kedua belah pihak.
4. Pola
Asuh Situasional
Dalam kenyataannya
setiap pola suh tidak diterapkan secara kaku dalam keluarga. Maksudnya, orang
tua tidak menetapkan salah satu tipe saja dalam mendidik anak. Orang tua dapat
menggunakan satu atau dua (campuran pola asuh) dalaam situasi tertentu. Untuk
membentuk anak menjadi anak yang berani menyampaikan pendapat sehingga memiliki
ide-ide yang kreatif.
Menurut Yatim dan Irwanto (1991: 96-97). Ada tiga cara yang digunakan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Ketiga pola tersebut adalah:
Menurut Yatim dan Irwanto (1991: 96-97). Ada tiga cara yang digunakan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Ketiga pola tersebut adalah:
1. Pola
Asuh Otoriter Pola asuh otoriter ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku
dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi, orang tua memaksa anak untuk
berperilaku seperti yang diinginkannya. Bila aturan-aturan ini dilanggar, orang
tua akan menghukum anak, biasanya hukuman yang bersifat fisik.
2. Pola
Asuh Demokratis Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya sikap terbuka
antara orang tua dengan anaknya. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui
bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan, dan
keinginannya dan belajar untuk dapat menanggapi pendapat orang lain.
3. Pola
Asuh Permisif Pola asuh ini ditandai dengan adanya kebebasan yang diberikan
pada anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua tidak
pernah memberi aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan
kepada anak tanpa adanya pertimbangan orang tua
C. Ciri-Ciri
Pola Asuh
Menurut Drs. Zulkifli
(1987:138) menyebutkan ciri pola asuh sebagai berikut:
1) Pola
Asuh Otoriter
a) Komunikasi
satu arah.
b) Segala
aturan harus ditaati oleh anaknya.
c) Semaunya
sendiri kepada anak.
d) Anak
tumbuh memiliki jiwa disiplin.
2) Pola
Asuh Permisif
a) Komunikasi
satu arah.
b) Segala
peraturan dan keputusan berada di tangan anak.
c) Anak
cenderung bertindak semena-mena.
d) Anak
kurang disiplin pada aturan social yang berlaku.
e) Anak
tumbuh menjadi anak yang mandiri, kreatif, dan inisiatif.
3) Pola
Asuh Demokratis
a) Jalur
komunikasi dua arah.
b) Lebih
komunikatif .
c) Kedudukan
anak dan orang tua sejajar.
d) Anak
menjadi orang yang bertanggung jawab.
e) Anak
cenderung merendahkan orang tua.
4) Pola
Asuh Situasional
a) Orang
tua menggunakan campuran jenis pola asuh.
b) Membentuk
anak agar percaya diri.
c) Anak
cenderung kreatif dan menjadi anak yang jujur.
d) Orang
tua cenderung bingung memilih jenis pola asuh.
Kita
sebagai orang tua hendaknya memilih jenis pola asuh yang sesuai dengan keadaan
dan tepat untuk anak kita nanti. Sehingga anak yang kita didik juga akan merasa
nyaman dengan kita dan tidak merasa tertekan oleh keadaan.
Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Nasution, T dan Nurhalijah. (1986). Peranan Orang Tua Dalam
Meningkatkan Prestasi Belajar Anak. Jakarta: BPK Guna Mulia
Thoha, C. (1996). Kapita Selekta Pendidikan Islam.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar (IKAPI)