Thursday, May 3, 2018

Jenis-Jenis Pola Asuh Orang Tua


Pola Asuh Orang Tua
A.    Pengertian
Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:1088) bahwa “pola adalah model, sistem, atau cara kerja”, Asuh adalah “menjaga, merawat, mendidik, membimbing, membantu, melatih, dan sebagainya” Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:96). Sedangkan arti orang tua menurut Nasution dan Nurhalijah  (1986:1) “Orang tua adalah setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau tugas rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak dan ibu.”

B.     Jenis-Jenis Pola Asuh
Menurut Hourlock (dalam Thoha, 1996 : 111-112) mengemukakan ada tiga jenis pola asuh orang tua terhadap anaknya, yakni :
1.      Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak dengan aturanaturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi.
2.   Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung pada orang tua.
3.   Pola Asuh Permisif Pola asuh ini ditandai dengan cara orang tua mendidik anak yang cenderung bebas, anak dianggap sebagai orang dewasa atau muda, ia diberi kelonggaran seluas-luasnya untuk melakukan apa saja yang dikehendaki.
Menurut Drs. Zulkifli (1987:138) menyebutkan ada empat jenis pola asuh:
1.      Pola Asuh Otoriter (Parent Otorited)
Pola asuh otoriter pada umumnya menggunakan pola komunikasi satu arah. Pola asuh ini menekankan  bahwa segala aturan orang tua harus ditaati oleh anaknya. Dalam kondisi ini anak seolah-olah bertindak sebagai robot.
2.      Pola Asuh Permisif (Children Centered)
Pola asuh permisif menggunakan komunikasi satu arah, karena meskipun orang tua memiliki kekuasaan penuh dalam keluarga terutama pada anak tetapi anak memutuskan apa-apa yang diinginkan sendiri baik orang tua setuju ataupun tidak.
3.      Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis menggunakan komunikasi dua arah. Kedudukan orang tua dan anak dalam berkomunikasi sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan (keuntungan) kedua belah pihak.
4.      Pola Asuh Situasional
Dalam kenyataannya setiap pola suh tidak diterapkan secara kaku dalam keluarga. Maksudnya, orang tua tidak menetapkan salah satu tipe saja dalam mendidik anak. Orang tua dapat menggunakan satu atau dua (campuran pola asuh) dalaam situasi tertentu. Untuk membentuk anak menjadi anak yang berani menyampaikan pendapat sehingga memiliki ide-ide yang kreatif.

Menurut Yatim dan Irwanto (1991: 96-97). Ada tiga cara yang digunakan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Ketiga pola tersebut adalah:
1.   Pola Asuh Otoriter Pola asuh otoriter ditandai dengan adanya aturan-aturan yang kaku dari orang tua. Kebebasan anak sangat dibatasi, orang tua memaksa anak untuk berperilaku seperti yang diinginkannya. Bila aturan-aturan ini dilanggar, orang tua akan menghukum anak, biasanya hukuman yang bersifat fisik.
2.  Pola Asuh Demokratis Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya sikap terbuka antara orang tua dengan anaknya. Mereka membuat aturan-aturan yang disetujui bersama. Anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan, dan keinginannya dan belajar untuk dapat menanggapi pendapat orang lain.
3.   Pola Asuh Permisif Pola asuh ini ditandai dengan adanya kebebasan yang diberikan pada anak untuk berperilaku sesuai dengan keinginannya sendiri. Orang tua tidak pernah memberi aturan dan pengarahan kepada anak. Semua keputusan diserahkan kepada anak tanpa adanya pertimbangan orang tua

C.     Ciri-Ciri Pola Asuh
Menurut Drs. Zulkifli (1987:138) menyebutkan ciri pola asuh sebagai berikut:
1)      Pola Asuh Otoriter
a)      Komunikasi satu arah.
b)      Segala aturan harus ditaati oleh anaknya.
c)      Semaunya sendiri kepada anak.
d)     Anak tumbuh memiliki jiwa disiplin.
2)      Pola Asuh Permisif
a)      Komunikasi satu arah.
b)      Segala peraturan dan keputusan berada di tangan anak.
c)      Anak cenderung bertindak semena-mena.
d)     Anak kurang disiplin pada aturan social yang berlaku.
e)      Anak tumbuh menjadi anak yang mandiri, kreatif, dan inisiatif.
3)      Pola Asuh Demokratis
a)      Jalur komunikasi dua arah.
b)      Lebih komunikatif .
c)      Kedudukan anak dan orang tua sejajar.
d)     Anak menjadi orang yang bertanggung jawab.
e)      Anak cenderung merendahkan orang tua.
4)      Pola Asuh Situasional
a)      Orang tua menggunakan campuran jenis pola asuh.
b)      Membentuk anak agar percaya diri.
c)      Anak cenderung kreatif dan menjadi anak yang jujur.
d)     Orang tua cenderung bingung memilih jenis pola asuh.
Kita sebagai orang tua hendaknya memilih jenis pola asuh yang sesuai dengan keadaan dan tepat untuk anak kita nanti. Sehingga anak yang kita didik juga akan merasa nyaman dengan kita dan tidak merasa tertekan oleh keadaan.

Daftar Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Nasution, T dan Nurhalijah. (1986). Peranan Orang Tua Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak. Jakarta: BPK Guna Mulia
Thoha, C. (1996). Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta : Pustaka Pelajar (IKAPI)

No comments:

Post a Comment